2/19/2012

Ujian Hati 2


Ma'na Ujian Hati
Setelah pada pembahasan sebelumnya kita sudah membicarakan mengenai urgensi atau pentingnya pembahasan tentang hati, artikelnya bisa dilihat disini,
maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai Makna Ujian Hati insya'Allah..

Wahai ikhwah...!
Hati kita diuji pagi dan sore, setiap saat dari detik-detik kehidupan kita. Lalu apakah kita menyadari hal ini ? satu kesalahan bisa berpengaruh besar terhadap kehidupan hati dan mampu menggugurkan amal. Allah berfirman,
وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (154)
“dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Allah Maha Mengetahui isi hati” [Ali Imran: 154]
أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3)

“mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [Al-Hujurat: 3]
Lalu siapakah orang-orang yang diuji oleh Allah untuk bertaqwa itu ?
Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang shahabat yang mulia, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhuma, ketika keduanya mengeraskan suara di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada serombongan utusan dari Tamim yang ingin menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar berkata “tunjukkan Al-Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zararah agar menjadi pemimpin rombongan”
Sementara Umar bin Al-Khaththab mengusulkan agar yang menjadi pemimpin rombongan adalah Al-Aqra’ bin Habis.
Abu Bakar berkata, “rupanya engkau tidak menginginkan kecuali berbeda pendapat denganku”
Umar tidak mau kalah, dengan berkata, “aku tidak bermaksud untuk berbeda pendapat denganmu”
Keduanya saling berdebat hingga suara mereka semakin meninggi dan keras. Karena itu turun ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ (1)
“hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya....” [Al-Hujurat: 1]
Benar. Dalam Agama ini tidak ada tutur kata yang dibuat-buat. Maka firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ (2)
“hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaiman kerasnya [suara] sebagian kalian terhadap sebagian yang lain” [Al-Hujurat: 2]
Mengapa demikian ? karena,
أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)
“supaya tidak hapus [pahala] amalan-amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari” [Al-Hujurat: 2]

Maha Suci Allah, ini merupakan masalah yang tidak mendapatkan perhatian yang memada dari banyak orang,
Lalu siapa yang diancam dalam ayat ini ?. apakah yang dimaksud adalah Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab ? padahal Rasulullah shallallahuu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang Abu Bakar,
"لو كنت متخذا خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا"
”sekiranya aku boleh mengambil kesayangan dari ummatku, tentu akan aku ambil Abu Bakar [sebagai kesayanganku]” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].
Sementara tentang Umar bin Al-Khaththab beliau juga pernah bersabda,
"والذى نفسى بيده ما لقيك الشيطان قط يالكا فجا إلا سلك فجا غير فجك"
“demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sekali-kali Staithan tidak bertemu denganmu sedang melewati suatu jalan, melainkan syaithan tersebut akan melewati jalan yang lain selain jalanmu” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Namun keduanya bertaubat, kembali kepada Allah, memohon ampun, dan bahkan salah seorang diantara keduanya bersumpah untuk tidak berbicara dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan seperti secara berbisik-bisik.
Dari sinilah turun ayat berikutnya,
أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى (3)
“mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa” [Al-Hujurat: 3]
Artinya Allah memurnikan hati mereka untuk taqwa, sehingga hati itu tidak layak diisi kecuali taqwa.[1]
Satu sikap sederhana menurut pandangan kita, yang terjadi pada diri dua orang yang paling baik di tengah ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga merupakan ujian yang ringan untuk sebuah kelalaian yang muncul dari keduanya.
Tapi apa yang kita katakan tentang keadaan kita ? berapa banyak ujian yang mendatangi kita, namun kita tidak menyadarinya ?
Di sini terkandung rahasia yang mengagumkan yang terkandung dalam firman Allah,
وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)
“sedangkan kalian tidak menyadari” [Al-Hujurat: 2]
Sebab berapa banyak amalan manusia yang gugur, sedangkan ia tidak menyadarinya, dia tidak pernah membayangkan bahwa amalnya gugur karena perbuatan itu atau bahkan dia tidak peduli dengan amalnya.
Berapa banyak perbuatan atau perkataan yang berpengaruh terhadap pelakunya, sementara dia tidak menyadarinya ?
Jika mengeraskan suara di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja, hampir saja menggugurkan amal Abu Bakar dan Umar, lalu apa yang terjadi dengan keadaan orang yang mengeraskan suaranya di atas suara kebenaran ?
Mereka itulah orang-orang yang mendahulukan syari’at thoghut dari pada Syari’at Allah. Mereka itulah orang-orang yang memusuhi Islam dan tolong menolong di atas jalan syethan.
Agar kita lebih dapat memahami ma’na ujian hati, maka ada baiknya kita memperhatikan hadits yang agung ini, yang diriwayatkan Shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda,
تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودًا عودًا، فأي قلب أشربها؛ نكت فيه نكتة سوداء، وأي قلب أنكرها؛ نكت فيه نكتة بيضاء، حتى تصير على قلبين: على أبيض مثل الصفا فلا تضره فتنة ما دامت السماوات والأرض، والآخر أسود مربادًا كالكوز مجخيا لا يعرف معروفًا ولا ينكر منكرًا؛ إلا ما أشرب من هواه
“Cobaan ditampakkan kepada hati sebagaimana tikar yang dianyam sehelai demi sehelai. Manapun hati yang disusupi cobaan itu, maka ditorehkan satu titik hitam di dalamnya, dan manapun hati yang mengingkarinya, maka ditorehkan satu titik putih di dalamnya, hingga cobaan itu ada di atas dua hati: di atas hati yang putih seperti batu yang putih, yang tidak dapat dimasuki mudharat oleh satu cobaan pun selagi masih ada langit dan bumi, dan yang lain hitam pekat seperti cangkil jubung yang terbalik, tidak menenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar, kecuali apa yang menyusup kedalamnya dari hawa nafsu” [diriwayatkan oleh Muslim]
Semoga Allah menjadikan hati kita putih, membersihkannya dari berbagai kedurhakaan, kehinaan dan syubhat.
Di dalam hadits ini digunakan fi’il mudhari’ yaitu تعرض tu’ridhu, yang menunjukkan kelangsungan cobaan dan ujian, sebagaimana cobaan ini tidak datang sekaligus dalam satu waktu, tapi sedikit demi sedikit, sehingga hati benar-benar menjadi hitam. Atau boleh jadi Allah akan menyelamatkannya, sehingga ia lulus dalam ujian, tidak ada cobaan yang membahayakannya selagi ada langit dan bumi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,
فالنفس تدعو إلى الطغيان، وإيثار الحياة الدنيا. والرب -جل وعلا- يدعو عبده إلى خوفه، ونهي النفس عن الهوى، والقلب بين الداعيين وهذا هو موضع الفتنة والابتلاء
“nafsu itu mengajak kepada pelanggaran dan lebih mementingkan kehidupan dunia, sementara Allah mengajak hamba-Nya supaya takut kepada-Nya, mencegah drihawa nafsu. Jadi hati berada di antara dua penyeru. Di sinilah letak ujian dan cobaan terhadap hati”[2]
Di sini ada satu catatan penting yang harus diperhatikan, bahwa sebagian orang yang sibuk dalam kegiatan dakwah dan mencari ilmu mengira bawa puncak dari ujian dan cobaan hati ini ialah siksaan fisik, seperti penyiksaan, penahanan, pembunuhan, dan lain sebagainya yang merka alami, atau boleh jadi berupasiksaan spiritual, seperti orang-orang yang menghindarinya, mengolok-olok dan mengejek. Ini merupakan pembatasan tehadap pemahaman cobaan atas jenis-jenisnya yang lain. Sebab jika tidak, maka jenis cobaan yang paling keras ialah cobaan dan ujian hati. Berapa banyakkita melihat orang-orang yang berhasil dalam ujian penyiksaan [fisik], namun mereka justru gagal dalam ujian hati. Karena itulah di antara do’a orang-orang yang mempunyai kedalaman ilmu ialah,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8)
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena Engkaulah Maha Pemberi [karunia]” [Ali Imran: 8]
Kami sudahi pembuka tentang ma’na ujian dan cobaan hati dengan seruan Rabbani terhadap orang-orang Mukmin, yang di dalamnya terkandung peringatan yang menakutkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (24)
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kpada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan” [Al-Anfal: 24]
Kami memohon kepada Allah supaya Dia melimpahkan taufiq kepada kita, menolong kita untuk memenuhi seruan-Nya dan seruan Rasul-Nya, supaya menghidupkan hati kita, tidak membatasi antara diri kita degan hati kita dengan kedurhakaan-kedurhakan, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas semua itu.

Macam-macam Penyakit yang Menjangkiti Hati
Urusan segumpal darah yang tidak terlalu besar ini sangat mengagumkan, tidak ada perumpamaan yang lebih tepat baginya kecuali layaknya lautan yang membentang luas, yang secara sepintas kita lihat permukaannya datar, padahal hakikatnya ia merupakan alam tersendiri yang di dalamnya terdapat berbagai jenis hewan dan tetumbuhan yag mengagumkan, sampai-sampai para pakar pun dibuat terlongong karenanya.
Begitu pula hati. Siapa yang memperhatikannya secara seksama, tentu akan mendapatkan bahwa urusannya benar-benar sangat mengagumkan, karena ia memiliki kondisi dan emosi yang beragam, yang karenanya manusia berbeda-beda, kondisi, sikap dan sifat-sifatnya. Ini hanya sekilas dari hamparan yang trdapat di alam hati yang kecil namun besar.
Inilah beberapa isyarat A-Qur’an, tentang berbagai penyakit yang bisa menjangkiti hatim seperti kelalaian, kebutaan, kepalsuan, labilitas, olok-olok, kekeraan, tutupan, riya’, main-main, kemunafikan, iri, dan lain sebangainya.
Subhanallah, semua ini dapat menyerang dan menjangkiti hati, justru begitulah yang lebih banyak dialami manusia.
Alhasil, hati akan mengalami apa yang sudah ditetapkan, yang pada akhirnya ia mati setelah ditimpa penyakit-penyakit ini, manusia tidak mampu melawannya dan akhirnya hatinya menjadi hitam kelam.
Sebagaimana hatu yang dapat dijangkiti berbagai macam penyakit, maka hati ini pun bisa memiliki nuansa keimanan dan kedudukan-kedudukan ubudiyah, berupa sifat-sifat yang terpuji, seperti lemah lembut, merendahkan diri, khusyu’, ikhlash, cinta kepada Allah, taqwa, keteguhan, takut, berharap, kembali kepada Allah, dan lain sebagainya.
Alhasil tidak ada keselamatan kecuali yang datang kepada Allah denga hati yang bersih, hidup dan beriman, yang warna hati pelakunya ialah putih bersih lagi suci

Insya’Allah akan bersambung ke pembahasan “Area-area Ujian Hati”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai sahabat sekalian kasi komentar iya tentang blog ane..?
semoga bermanfaat dan menambah ilmu buat sahabat sekalian