Muqaddimah
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون)،
(يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساء لون به والارحام
إن الله كان عليكم رقيبا)،
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما).
أما بعد، فان أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد، وشر الامور محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
Berbicara tentang hati dan ujiannya merupakan pilihan topik yang paling tepat ketika hati manusia mengeras, ketika iman di dalamnya melemah, ketika ia lebih disibukkan dengan urusan dunia dan ketika manusia berpaling dari urusan akhirat.
Kami melihat adanya perkembangan yang sangat pesat tentang upaya menyembuhkan hati manusia. Perkembangan terakhir yang sempat kami dengar, ialah usaha mencangkok hati dan memindahkannya dengan teknologi medis yang tinggi, bagaimana usaha mereka membatasi penyakit-penyakit mental yang menimpa hati, identifikasi dan cara penyembuhannya.
Namun disana kami tidak akan berbicara tentang penyakit-penyakit mental dan apa obat serta penyembuhannya, tapi kami ingin berbicara tentang apa yang dihadapi hati dalam perjalanan menuju Allah, berupa ujian dan cobaan, apa pula tanda-tanda kesehatan dan penyakitnya dan dimana posisi cobaan hati itu.
Kami akan memusatkan pembicaraan tentang hati ini dengan mengacu kepada Kalam Allah dan perkataan Rasul-Nya. Hal ini tidak terlalu mengherankan. Sebab yang memang harus dilakukansecara mendasar ialah menciduk dari sumber Al-Kitab dan As-Sunnah.
Kami membuat ketetapan seperti ini, agar sama-sama diketahui bahwa pembicaran tentang hati bukanlah perkara enteng dan mudah, tak seorangpun yang lebih mengetahui keadaan hati dan apa yang dirasakannya kecuali Penciptanya, Allah berfirman,
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ (14)
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui [yang kalian lahirkan dan rahasiakan]?” [Al-Mulk: 14]
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (19)
“Dia mengetahui [pandangan] mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam hati” [Al-Mukmin: 19]
Allah-lah yang menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman-Nya,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)
“dan tiadalah yang diucapkan itu [Al-Qur’an] menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya]” [An-Najm: 3-4]
Ada baiknya disini jika kami ingatkan tentang adanya bualan dari banyak orang yang katanya bisa mengetahui tujuan dari gerak hati. Padahal tak seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah, akhirnya mereka menyibukkan diri dalam hal-hal yang dilarang dan juga mengeluarkan perkataan yang ngelantur.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (36)
“dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya” [Al-Isra’: 36]
Mana mungkin kita bisa mengetahui rahasia hati dan bisikan-bisikannya ?
Dalam sebuah sya’ir dikatakan,
ومكلف الأشياء فوق طباعها
متطلـب في الماء جذوة نار
Orang yang memaksakan sesuatu diluar tabiatnya sama dengan menuntut nyala api di dalam air.
Ada apa di balik pembicaraan tentang Hati ?
Pembicaraan tentang hati memiliki urgensi yang spesifik, karena beberapa pertimbangan, diantaranya yang penting:
Pertama:
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba supaya membersihkan hati dan mensucikannya, bahkan Allah menjadikan sebagian dari tugas risalah Al-Muhammadiyah ialah mensucikan hati dan memprioritaskan untuk mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada mereka, mengingat pentingnya pensucuian hati ini.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (2)
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah)” [Al-Jumu’ah:2]
Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyatakan tentang firman Allah, وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ “dan pakaianmu bersihkanlah” [Al-Muddatstsir: 4], jumhur mufassir salah dan para ulama sesudah mereka menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ثِيَابَ “pakaian” di sini adalah hati[1]
Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik,
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (41)
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka, mereka memperoleh kehinaan di dunia dan di akhirat, mereka memperoleh siksa yang besar” [Al-Maidah: 41]
Hal ini sudah cukup dijadikan alasan yang kuat untuk membicarakan masalah hati.
Kedua:
Adanya pengaruh hati yang kuat dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai pengarah dan konseptor, sementara anggota tubuh sebagai pelaksananya.
Abu Hurairah berkata,
القلب ملك وله جنود، فإذا صلح الملك صلحت جنوده، وإذا فسد الملك فسدت جنوده
“Hati itu raja, sedangkan anggota tubuh adalah pasukannya, jika raja baik maka pasukannya ikut baik, jika rajanya jahat maka jahat pula pasukannya”[2]
Ketiga:
Di antara sebab substansial untuk mengangkat pembicaraan tentang tema ini, karena kelalaian mayoritas manusia dari memperhatikan hati mereka sendiri. Sebagai misal, banyak pelajar yang meluaskan kajian dalam sebagian amal-amal yang mendetail dan bagaimana mereka memahami permasalahan dengan pemahaman yang mengagumkan, apakah menggerakkan jari [ketika tahiyat dalam sholat] termasuk As-Sunnah ? bagaimana caranya ? dan kapan waktunya ? dan masih banyak masalah lain. Tidak dapat diragukan, pembahasan mengenai masalah ini bermanfaat dan penting. Tapi pada saat yang sama mereka melalaikan amal-amal hati dan keadaan-keadaannya, apa penyakit dan titik kelemahannya. Padahal masalah ini tidak kalah pentingnya.
Keempat:
Banyak problem yang menimpa manusia, khususnya kalangan pelajar, yang disebabkan berbagai penyakit yang menyerang hati, yang tidak didasarkan pada hakikat-hakikat syar’iyyah, sehingga berbagai problem ini memvisualisasikan keadaan hati orangnya dan terendapnya berbagai macam penyakit di dalamnya, seperti dengki, iri, dusta, takabbur, penghinaan, buruk sangka, dan lain sebagainya.
Cara untuk menuntaskan problem-problem tersebut ialah dengan menyembuhkan hati. Jika tidak, maka sewaktu-waktu penyakit tersebut akan muncul jika ada pemicu dan penyebabnya.
Kelima:
Kesehatan dan kesucian hati menjadi sebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Keselamatan hati dari dusta, dengki, kebencian, dan berbagai macam penyakit menjadi sebab kebahagiaan dunia dan akhirat.
Firman Allah,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
“di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” [Asy-Syu’ara: 88-89].
Perhatikan keadaan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang yang diberi hati yang sehat dan selamat, yang terbebas dari penyakit hati dan cela.
Keenam:
Al-Imam Abdullah bin Abu Jumrah berkata, “Aku ingin sekiranya di antara para fuqaha tidak memiliki kesibukan kecuali mengetahui tujuan yang diinginkan manusia dari amalnya. Tidak banyak yang diberi dari mereka yang diberi, kecuali pengabaian tentang tujuan amal itu”[3]
Ketujuh:
Karena kedudukan yang diberika Allah kepada hati ini di dunia dan di akhirat. Sebagai contoh perthatikan dalil-dalil tentang hal ini di dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulullah-Nya,
Firman Allah,
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
“dan jangan Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, [yaitu] di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-oang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat” [Asy-Syu’ara: 87-89].
Tidak ada orang yang selamat pada hari kiamat kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
Firman Allah yang lain,
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33)
“dan didekatkan surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh [dari mereka], inilah yang dijanjikan kepada kalian [yaitu] kepada setiap hamba yang selalu kembali [kepada Allah] lagi memelihara [semua peraturan-peraturan-Nya], [yaitu] orang-orang yang takut kepada Yang Maha Pemurahsedang Dia tidak kelihatan [olehnya] dan dia datang dengan hati yang bertaubat” [Qaf: 31-33].
Disebutkan dalam Shohih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، وإنما ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم"
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan tidak pula badan-badan kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian”
Di dalam Ash-Shohihain disebutkan dari hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’
"ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، وإذا فسدت فسد الجسد كله ، ألا وهي القلب"
“Sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia baik maka akan baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia ruak maka akan rusak pula seluruhjsadnya, ketahuilah ia adalah hati” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].
Hadits ini sudah cukup dijadikan nasehat dan pelajaran bagi orang-orang yang berfkir.
Kedelapan:
Perkataan-perkatan hati, yaitu pembenaran dan pengakuannya, amal dan gerakan-gerakannya seperti takut, berharap, cinta, tawakal, dan lain-lainnya, merupakan bagian dari rukun iman yang paling agung menurut Ahlus-sunnah wal-Jama’ah, yang semua itu tidak akan ada jika iman tidak ada. Coba lihat orang-orang munafiq yang menyatakan syahadah dengan lisannya, bergabung bersama orang-orang Muslim dalam amal-amal dhohir mereka, tapi mereka tidak memiliki pembenaran dan pengakuan, akibat yang mereka alami seperti firman Allah,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (145)
“sesungguhnya orang-orang munafiq itu [ditempatkan] pada tingkatan yang paling bawah di neraka. Dan kamu tidak akan mendapat penolongpun bagi mereka” [An-Nisa’: 145].
Kesembilan:
Banyak orang yang sangat antusias hendak mengetahui tujuan dan keinginan yang terpendam di dalam hati manusia. Mereka membebani diri dengan hal-hal yang sebenarnya di luar kesanggupan dan pengabaian hal-hal yang dhohir. Mereka membuat aturan-aturan hukum untuk dapat mengungkap amal hati, yang tidak diketahui kecuali Allah Yang Maha Mengetahui yang ghoib, Anehnya di sana ada orang yang menyatakan bahwa perbuatan semacam itu justru mencerminkan kecerdasan yang tinggi, kekuatan firasat dan kepandaian, padahal itu semua bukan firasat yang syar’iyah sedikitpun, kita diperintahkan untuk menghukumi manusia berdasarkan dhohir mereka, sedangkan perkara hati kita serahkan kepada Allah.
Alhasil jika seperti ini kedudukan dan urgensi hati, maka mengapa kita tidak tegak berdiri untuk memperhatikan amal kita yang didasari hati, atau apa yang dilakukan hati terhadap diri kita ?, berapa banyak kita menyibukkan diri dengan urusan dunia, penghidupan dan pekerjaan, kalaupun tersisa sedikit perhatian, maka perhatian ini pun kita tujukan ke amal-amal yang dhohir.
Tidak banyak di antara kita yang memperhatikan masalah hati ini, tidak pula memberikan perhatian yang memadai, dan semoga dengan menyebutkan urgensi hati dan pengaruhnya dalam kehidupan manusia ini dapat mendorong kita untuk menaruh perhatian terhadap hati dan memberikan kedudukan yang sepadan baginya.
Insya’Allah bersambung ke tulisan tentang “Ma’na Ujian Hati”
2/19/2012
Ujian Hati
Ujian Hati 2

Ma'na Ujian Hati
Setelah pada pembahasan sebelumnya kita sudah membicarakan mengenai urgensi atau pentingnya pembahasan tentang hati, artikelnya bisa dilihat disini,
maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai Makna Ujian Hati insya'Allah..
Wahai ikhwah...!
Hati kita diuji pagi dan sore, setiap saat dari detik-detik kehidupan kita. Lalu apakah kita menyadari hal ini ? satu kesalahan bisa berpengaruh besar terhadap kehidupan hati dan mampu menggugurkan amal. Allah berfirman,
وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (154)
“dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Allah Maha Mengetahui isi hati” [Ali Imran: 154]
أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3)
“mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [Al-Hujurat: 3]
Lalu siapakah orang-orang yang diuji oleh Allah untuk bertaqwa itu ?
Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang shahabat yang mulia, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhuma, ketika keduanya mengeraskan suara di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada serombongan utusan dari Tamim yang ingin menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar berkata “tunjukkan Al-Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zararah agar menjadi pemimpin rombongan”
Sementara Umar bin Al-Khaththab mengusulkan agar yang menjadi pemimpin rombongan adalah Al-Aqra’ bin Habis.
Abu Bakar berkata, “rupanya engkau tidak menginginkan kecuali berbeda pendapat denganku”
Umar tidak mau kalah, dengan berkata, “aku tidak bermaksud untuk berbeda pendapat denganmu”
Keduanya saling berdebat hingga suara mereka semakin meninggi dan keras. Karena itu turun ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ (1)
“hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya....” [Al-Hujurat: 1]
Benar. Dalam Agama ini tidak ada tutur kata yang dibuat-buat. Maka firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ (2)
“hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaiman kerasnya [suara] sebagian kalian terhadap sebagian yang lain” [Al-Hujurat: 2]
Mengapa demikian ? karena,
أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)
“supaya tidak hapus [pahala] amalan-amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari” [Al-Hujurat: 2]
Maha Suci Allah, ini merupakan masalah yang tidak mendapatkan perhatian yang memada dari banyak orang,
Lalu siapa yang diancam dalam ayat ini ?. apakah yang dimaksud adalah Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab ? padahal Rasulullah shallallahuu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang Abu Bakar,
"لو كنت متخذا خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا"
”sekiranya aku boleh mengambil kesayangan dari ummatku, tentu akan aku ambil Abu Bakar [sebagai kesayanganku]” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].
Sementara tentang Umar bin Al-Khaththab beliau juga pernah bersabda,
"والذى نفسى بيده ما لقيك الشيطان قط يالكا فجا إلا سلك فجا غير فجك"
“demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sekali-kali Staithan tidak bertemu denganmu sedang melewati suatu jalan, melainkan syaithan tersebut akan melewati jalan yang lain selain jalanmu” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Namun keduanya bertaubat, kembali kepada Allah, memohon ampun, dan bahkan salah seorang diantara keduanya bersumpah untuk tidak berbicara dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan seperti secara berbisik-bisik.
Dari sinilah turun ayat berikutnya,
أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى (3)
“mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa” [Al-Hujurat: 3]
Artinya Allah memurnikan hati mereka untuk taqwa, sehingga hati itu tidak layak diisi kecuali taqwa.[1]
Satu sikap sederhana menurut pandangan kita, yang terjadi pada diri dua orang yang paling baik di tengah ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga merupakan ujian yang ringan untuk sebuah kelalaian yang muncul dari keduanya.
Tapi apa yang kita katakan tentang keadaan kita ? berapa banyak ujian yang mendatangi kita, namun kita tidak menyadarinya ?
Di sini terkandung rahasia yang mengagumkan yang terkandung dalam firman Allah,
وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)
“sedangkan kalian tidak menyadari” [Al-Hujurat: 2]
Sebab berapa banyak amalan manusia yang gugur, sedangkan ia tidak menyadarinya, dia tidak pernah membayangkan bahwa amalnya gugur karena perbuatan itu atau bahkan dia tidak peduli dengan amalnya.
Berapa banyak perbuatan atau perkataan yang berpengaruh terhadap pelakunya, sementara dia tidak menyadarinya ?
Jika mengeraskan suara di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja, hampir saja menggugurkan amal Abu Bakar dan Umar, lalu apa yang terjadi dengan keadaan orang yang mengeraskan suaranya di atas suara kebenaran ?
Mereka itulah orang-orang yang mendahulukan syari’at thoghut dari pada Syari’at Allah. Mereka itulah orang-orang yang memusuhi Islam dan tolong menolong di atas jalan syethan.
Agar kita lebih dapat memahami ma’na ujian hati, maka ada baiknya kita memperhatikan hadits yang agung ini, yang diriwayatkan Shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda,
تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودًا عودًا، فأي قلب أشربها؛ نكت فيه نكتة سوداء، وأي قلب أنكرها؛ نكت فيه نكتة بيضاء، حتى تصير على قلبين: على أبيض مثل الصفا فلا تضره فتنة ما دامت السماوات والأرض، والآخر أسود مربادًا كالكوز مجخيا لا يعرف معروفًا ولا ينكر منكرًا؛ إلا ما أشرب من هواه
“Cobaan ditampakkan kepada hati sebagaimana tikar yang dianyam sehelai demi sehelai. Manapun hati yang disusupi cobaan itu, maka ditorehkan satu titik hitam di dalamnya, dan manapun hati yang mengingkarinya, maka ditorehkan satu titik putih di dalamnya, hingga cobaan itu ada di atas dua hati: di atas hati yang putih seperti batu yang putih, yang tidak dapat dimasuki mudharat oleh satu cobaan pun selagi masih ada langit dan bumi, dan yang lain hitam pekat seperti cangkil jubung yang terbalik, tidak menenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar, kecuali apa yang menyusup kedalamnya dari hawa nafsu” [diriwayatkan oleh Muslim]
Semoga Allah menjadikan hati kita putih, membersihkannya dari berbagai kedurhakaan, kehinaan dan syubhat.
Di dalam hadits ini digunakan fi’il mudhari’ yaitu تعرض tu’ridhu, yang menunjukkan kelangsungan cobaan dan ujian, sebagaimana cobaan ini tidak datang sekaligus dalam satu waktu, tapi sedikit demi sedikit, sehingga hati benar-benar menjadi hitam. Atau boleh jadi Allah akan menyelamatkannya, sehingga ia lulus dalam ujian, tidak ada cobaan yang membahayakannya selagi ada langit dan bumi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,
فالنفس تدعو إلى الطغيان، وإيثار الحياة الدنيا. والرب -جل وعلا- يدعو عبده إلى خوفه، ونهي النفس عن الهوى، والقلب بين الداعيين وهذا هو موضع الفتنة والابتلاء
“nafsu itu mengajak kepada pelanggaran dan lebih mementingkan kehidupan dunia, sementara Allah mengajak hamba-Nya supaya takut kepada-Nya, mencegah drihawa nafsu. Jadi hati berada di antara dua penyeru. Di sinilah letak ujian dan cobaan terhadap hati”[2]
Di sini ada satu catatan penting yang harus diperhatikan, bahwa sebagian orang yang sibuk dalam kegiatan dakwah dan mencari ilmu mengira bawa puncak dari ujian dan cobaan hati ini ialah siksaan fisik, seperti penyiksaan, penahanan, pembunuhan, dan lain sebagainya yang merka alami, atau boleh jadi berupasiksaan spiritual, seperti orang-orang yang menghindarinya, mengolok-olok dan mengejek. Ini merupakan pembatasan tehadap pemahaman cobaan atas jenis-jenisnya yang lain. Sebab jika tidak, maka jenis cobaan yang paling keras ialah cobaan dan ujian hati. Berapa banyakkita melihat orang-orang yang berhasil dalam ujian penyiksaan [fisik], namun mereka justru gagal dalam ujian hati. Karena itulah di antara do’a orang-orang yang mempunyai kedalaman ilmu ialah,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8)
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena Engkaulah Maha Pemberi [karunia]” [Ali Imran: 8]
Kami sudahi pembuka tentang ma’na ujian dan cobaan hati dengan seruan Rabbani terhadap orang-orang Mukmin, yang di dalamnya terkandung peringatan yang menakutkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (24)
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kpada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan” [Al-Anfal: 24]
Kami memohon kepada Allah supaya Dia melimpahkan taufiq kepada kita, menolong kita untuk memenuhi seruan-Nya dan seruan Rasul-Nya, supaya menghidupkan hati kita, tidak membatasi antara diri kita degan hati kita dengan kedurhakaan-kedurhakan, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas semua itu.
Macam-macam Penyakit yang Menjangkiti Hati
Urusan segumpal darah yang tidak terlalu besar ini sangat mengagumkan, tidak ada perumpamaan yang lebih tepat baginya kecuali layaknya lautan yang membentang luas, yang secara sepintas kita lihat permukaannya datar, padahal hakikatnya ia merupakan alam tersendiri yang di dalamnya terdapat berbagai jenis hewan dan tetumbuhan yag mengagumkan, sampai-sampai para pakar pun dibuat terlongong karenanya.
Begitu pula hati. Siapa yang memperhatikannya secara seksama, tentu akan mendapatkan bahwa urusannya benar-benar sangat mengagumkan, karena ia memiliki kondisi dan emosi yang beragam, yang karenanya manusia berbeda-beda, kondisi, sikap dan sifat-sifatnya. Ini hanya sekilas dari hamparan yang trdapat di alam hati yang kecil namun besar.
Inilah beberapa isyarat A-Qur’an, tentang berbagai penyakit yang bisa menjangkiti hatim seperti kelalaian, kebutaan, kepalsuan, labilitas, olok-olok, kekeraan, tutupan, riya’, main-main, kemunafikan, iri, dan lain sebangainya.
Subhanallah, semua ini dapat menyerang dan menjangkiti hati, justru begitulah yang lebih banyak dialami manusia.
Alhasil, hati akan mengalami apa yang sudah ditetapkan, yang pada akhirnya ia mati setelah ditimpa penyakit-penyakit ini, manusia tidak mampu melawannya dan akhirnya hatinya menjadi hitam kelam.
Sebagaimana hatu yang dapat dijangkiti berbagai macam penyakit, maka hati ini pun bisa memiliki nuansa keimanan dan kedudukan-kedudukan ubudiyah, berupa sifat-sifat yang terpuji, seperti lemah lembut, merendahkan diri, khusyu’, ikhlash, cinta kepada Allah, taqwa, keteguhan, takut, berharap, kembali kepada Allah, dan lain sebagainya.
Alhasil tidak ada keselamatan kecuali yang datang kepada Allah denga hati yang bersih, hidup dan beriman, yang warna hati pelakunya ialah putih bersih lagi suci
Insya’Allah akan bersambung ke pembahasan “Area-area Ujian Hati”
Bolehkah Kencing Sambil Berdiri...?
Ada lima hadits yang membicarakan mengenai masalah ini. Tiga hadits adalah hadits yang shahih. Sedangkan dua hadits lainnya adalah dho'if (lemah).
Hadits Pertama
Hadits pertama ini menceritakan bahwa istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengingkari kalau ada yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi pernah kencing sambil berdiri.
'Aisyah –radhiyallahu 'anha- mengatakan,
مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُوْلُ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ قَاعِدًا
"Barangsiapa yang mengatakan pada kalian bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian membenarkannya. (Yang benar) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa kencing sambil duduk." (HR. At Tirmidzi dan An Nasa'i. Syaikh Al Albani mengatakan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 201 bahwa hadits ini shahih). Abu Isa At Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini adalah hadits yang lebih bagus dan lebih shahih dari hadits lainnya tatkala membicarakan masalah ini."
Hadits Kedua
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Bukhari membawakan hadits ini dalam kitab shahihnya pada Bab "Kencing dalam Keadaan Berdiri dan Duduk."
Hudzaifah –radhiyallahu 'anhu- mengatakan,
أَتَى النَّبِىُّ ، ( صلى الله عليه وسلم ) ، سُبَاطَةَ قَوْمٍ ، فَبَالَ قَائِمًا ، فَدَعَا بِمَاءٍ ، فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ ، فَتَوَضَّأَ
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendatangi tempat pembuangan sampah milik suatu kaum. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kencing sambil berdiri. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam meminta diambilkan air. Aku pun mengambilkan beliau air, lalu beliau berwudhu dengannya." (HR. Bukhari no. 224 dan Muslim no. 273).
Hadits ini tentu saja adalah hadits yang shahih karena disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Ibnu Baththol tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, "Hadits ini merupakan dalil bolehnya kencing sambil berdiri."[1]
Hadits Ketiga
Hadits berikut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil duduk.
'Abdurrahman bin Hasanah mengatakan,
خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ فِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ الدَّرَقَةِ قَالَ : فَوَضَعَهَا ، ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami dan di tangannya terdapat sesuatu yang berbentuk perisai, lalu beliau meletakkannya kemudian beliau duduk lalu kencing menghadapnya." (HR. Abu Daud, An Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Hadits Keempat
Hadits berikut ini membicarakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melarang Umar kencing sambil berdiri, namun hadits ini adalah hadits yang dho'if (lemah).
'Umar –radhiyallahu 'anhu- berkata,
رَآنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَبُولُ قَائِمًا فَقَالَ :« يَا عُمَرُ لاَ تَبُلْ قَائِمًا ». قَالَ فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ.
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatku kencing sambil berdiri, kemudian beliau mengatakan, "Wahai 'Umar janganlah engkau kencing sambil berdiri." Umar pun setelah itu tidak pernah kencing lagi sambil berdiri." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Syaikh Al Huwainiy –ulama hadits saat ini- mengatakan, "Ibnul Mundzir berkata bahwa hadits ini tidak shahih. Adapun Asy Syaukani sebagaimana dalam As Sail Al Jaror mengatakan bahwa As Suyuthi telah menshohihkan hadits ini!! Boleh jadi As Suyuthi melihat pada riwayat Ibnu Hibban. Lalu beliau tidak menoleh sama sekali pada tadlis yang biasa dilakukan oleh Ibnu Juraij. Sebagaimana kita ketahui pula bahwa As Suyuthi bergampang-gampangan dalam menshohihkan hadits. Kemudian hadits ini dalam riwayat Ibnu Hibban dikatakan dari Ibnu 'Umar. Namun sudah diketahui bahwa hadits ini berasal dari 'Umar (ayah Ibnu 'Umar). Saya tidak mengetahui apakah di sini ada perbedaan sanad ataukah hal ini tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Hibban?!"[2]
Syaikh Al Albani –rahimahullah- mengatakan, "Hadits ini dho'if (lemah). Yang tepat, tidaklah mengapa seseorang kencing sambil berdiri asalkan aman dari percikan kencing. Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath mengatakan, "Tidak terdapat dalil yang shahih yang menunjukkan larangan kencing sambil berdiri." Dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, dari 'Umar, beliau berkata, "Aku tidak pernah kencing sambil berdiri sejak aku masuk Islam". Sanad hadits ini shahih. Namun dari jalur lain, dari Zaid, beliau berkata, "Aku pernah melihat 'Umar kencing sambil berdiri". Sanad hadits ini juga shahih. Oleh karena itu, hal inilah yang dilakukan oleh 'Umar dan ini menunjukkan telah jelas bagi 'Umar bahwa tidak mengapa kencing sambil berdiri"."[3]
Hadits Kelima
Hadits berikut menunjukkan bahwa kencing sambil berdiri adalah termasuk perangai yang buruk, namun hadits ini juga adalah hadits yang dho'if (lemah).
Dari Buraidah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
ثلاثٌ مِنَ الجَفاءِ أنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قائِماً أوْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاتِهِ أوْ يَنْفُخَ في سُجُودِهِ
"Tiga perkara yang menunjukkan perangai yang buruk: [1] kencing sambil berdiri, [2] mengusap dahi (dari debu) sebelum selesai shalat, atau [3] meniup (debu) di (tempat) sujud." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam At Tarikh dan juga oleh Al Bazzar)
Syaikh Al Huwaini –hafizhahullah- mengatakan, "Yang benar, hadits ini adalah mauquf (cuma perkataan sahabat) dan bukan marfu' (perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam)." Di tempat sebelumnya, Syaikh Al Huwaini mengatakan bahwa hadits ini ghoiru mahfuzh artinya periwayatnya tsiqoh (terpercaya) namun menyelisihi periwayat tsiqoh yang banyak atau yang lebih tsiqoh.[4] Jika demikian, hadits ini adalah hadits yang lemah (dho'if).
Syaikh Al Albani –rahimahullah- mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits dho'if (lemah).[5]
Terdapat perkataan yang shahih sebagaimana hadits Buraidah di atas, namun bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi perkataan Ibnu Mas'ud.
Ibnu Mas'ud –radhiyallahu 'anhu- mengatakan,
إِنَّ مِنَ الجَفَاءِ أَنْ تَبُوْلَ وَأَنْتَ قَائِمٌ
"Di antara perangai yang buruk adalah seseorang kencing sambil berdiri." (HR. Tirmidzi). Syaikh Al Huwaini mengatakan bahwa periwayat hadits ini adalah periwayat yang tsiqoh (terpercaya). Syaikh Al Albani –rahimahullah- mengatakan dalam Shahih wa Dha'if Sunan At Tirmidzi bahwa hadits ini shahih. Inilah pendapat Ibnu Mas'ud mengenai kencing sambil berdiri.
Menilik Perselisihan Para Ulama
Dari hadits-hadits di atas, para ulama akhirnya berselisih pendapat mengenai hukum kencing sambil berdiri menjadi tiga pendapat.
Pendapat pertama: dimakruhkan tanpa ada udzur. Inilah pendapat yang dipilih oleh 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, 'Umar dalam salah satu riwayat (pendapat beliau terdahulu), Abu Musa, Asy Sya'bi, Ibnu 'Uyainah, Hanafiyah dan Syafi'iyah.
Pendapat kedua: diperbolehkan secara mutlak. Inilah pendapat yang dipilih oleh 'Umar dalam riwayat yang lain (pendapat beliau terakhir), Zaid bin Tsabit, Ibnu 'Umar, Sahl bin Sa'ad, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifah, dan pendapat Hanabilah.
Pendapat ketiga: diperbolehkan jika aman dari percikan, sedangkan jika tidak aman dari percikan, maka hal ini menjadi terlarang. Inilah madzhab Imam Malik dan inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir.[6]
Pendapat Terkuat
Pendapat terkuat dari pendapat yang ada adalah kencing sambil berdiri tidaklah terlarang selama aman dari percikan kencing. Hal ini berdasarkan beberapa alasan:
Tidak ada hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kencing sambil berdiri selain dari hadits yang dho'if (lemah).
Hadits yang menyebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kencing sambil duduk tidaklah bertentangan dengan hadits yang menyebutkan beliau kencing sambil berdiri, bahkan kedua-duanya diperbolehkan.
Terdapat hadits yang shahih dari Hudzaifah bahkan hadits ini disepakati oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri.
Sedangkan perkataan 'Aisyah yang mengingkari berita kalau Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu kencing sambil berdiri hanyalah sepengetahuan 'Aisyah saja ketika beliau berada di rumahnya. Belum tentu di luar rumah, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak kencing sambil berdiri. Padahal jika seseorang tidak tahu belum tentu hal tersebut tidak ada. Mengenai masalah ini, Hudzaifah memiliki ilmu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Jadi, ilmu Hudzaifah ini adalah sanggahan untuk 'Aisyah yang tidak mengetahui hal ini.
Itulah sedikit ulasan mengenai kencing sambil berdiri. Semoga pembahasan ini bisa menjawab masalah dari beberapa pembaca yang belum menemukan titik terang mengenai permasalahan ini.
Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa'ana bimaa 'allamtana, wa 'alimna maa yanfa'una wa zidnaa 'ilmaa. Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disusun berkat karunia Allah di malam hari, 10 Jumadil Ula 1430 H di rumah mertua tercinta.
Cantik
Dalam kitab madzhab Hambali Syarah Muntaha Al-Iraadaat (2/621 ) :
ويسن أيضا تَخَيُّرُ الجميلة ، لأنه أسكن لنفسه ، وأغض لبصره ، وأكمل لمودته ؛ ولذلك شرع النظر قبل النكاح
“Adalah juga sunnah untuk memilih wanita yang cantik, karena hal tersebut dapat melahirkan rasa ketenangan yang lebih besar dan lebih membantu dia untuk menundukkan pandangan dan cinta yang lebih. Oleh karenanya disyari’atkan “nadhar” sebelum menikah”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ta’ala ‘anhu :
قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَيُّ النِّسَاءِ خَيرٌ ؟ قال : التِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِليهَا ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَر ، وَلا تُخَالِفُهُ فِي نَفسِهَا وَلا فِي مَالِهِ بِمَا يَكرَهُ
“Ya Rasulullah, wanita mana yang terbaik ?”. Beliau berkata salah satunya : ”Yang tatkala engkau melihatnya engkau merasa senang,…….” [Ash-Shahiihah no. 1838].
Beberapa ulama menganggapnya sebagai mustahab, jika seorang pria tatkala hendak menikah MEMULAINYA DENGAN MEMPERTANYAKAN TENTANG KECANTIKANNYA TERLEBIH DAHULU, kemudian baru tentang komitmen agamanya.
Al-Imam Al-Bahuuti rahimahullah berkata dalam Syarh Muntaha Al-Iraadat (2/621) :
Secara bebas maksudnya demikian : Dia (seorang pria ) seharusnya tidak bertanya tentang komitmen agama seorang wanita terlebih dahulu hingga dia telah mengetahui hal tentang kecantikannya. Al-Imam Ahmad berkata : Jika seseorang pria ingin menikahi seorang wanita,dia mesti bertanya pertama kali TENTANG KECANTIKANNYA, jika kemudian dia mendapat kabar bagus mengenai kecantikan (wanita tersebut), baru dia bertanya mengenai komitmen agama (wanita tadi). Jika ternyata agamanya bagus maka dia seharusnya menikahi wanita tersebut. Jika dia tidak mendapat kabar yang baik mengenai agamanya maka dia akan menolak wanita tersebut atas dasar agamanya. (tentu ini tidak boleh). Oleh karenanya janganlah dia bertanya mengenai komitmen agamanya dahulu, yang jika dia mendengar bahwa agama wanita itu bagus, namun kemudian dia mengetahui wanita tersebut tidak cantik lantas kemudian menolak. Maka dia (pria tadi) telah menolak wanita atas dasar “kecantikan” bukan atas dasar “agama” - selesai kutipan -.
Tentu hal ini (seakan-akan) menyalahi sabda Nabi ‘alaihi shalaatu wa sallam bahwa kita dianjurkan memilih atas dasar “komitmen agama” seorang wanita.
Yang salah (sebenarnya) adalah tatkala seorang pria mencari kecantikan tetapi melupakan sisi agama seorang wanita - sebagai pondasi kebahagiaan dan kebaikan yang dia cari. Oleh karenanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan gambaran 4 hal yang umumnya dijadikan dasar dalam pemilihan pasangan. Di akhir hal tersebut berkaitan dengan “komitmen agama/akhlak seorang wanita”. Ini artinya agar kita tidak semata mencari penampilan luar tanpa memperhatikan penampilan dalam.
Al-Imam An-Nawawiy dalam Syarh Muslim (10/52) tatkala mengomentari hadist mengenai “wanita dinikahi karena empat hal…dst, berkata:
الصحيح في معنى هذا الحديث : أن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر بما يفعله الناس في العادة ، فإنهم يقصدون هذه الخصال الأربع ، وآخرها عندهم ذات الدين ، فاظفر أنت أيها المسترشد بذات الدين
“Pandangan yang benar mengenai makna hadist ini adalah bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang keumuman manusia apa yang dilakukannya tatkala hendak menikah, bahwa mereka menikah berdasar empat hal ini (harta, keturunan, kecantikan, dan agama). Yang paling terakhir dalam pilihan orang adalah mengenai komitmen agama, maka yang benar adalah engkau selayaknya memilih yang punya komitmen agama”.
Pandangan yang mengatakan mustahabb untuk mencari wanita yang cantik sebagai istrinya tidak lah berarti kecantikan itu hal yang utama. Dan berati bahwa kita harus mendapatkan wanita yang sangat cantik sejagat, karena tidak akan kita dapatkan yang sangat sempurna, mungkin bisa kita dapatkan tapi dengan kelemahan agama dan prilakunya.
Arti mencari yang cantik yang dimaksud adalah jenis/tingkat kecantikan dimana kita sebagai pria bisa menjaga diri dari hal haram dan meredam untuk berpaling atau memandang wanita lain selain istri kita. Toh definisi cantik akan berbeda-beda pada setiap pria.
Nasehat saya adalah nikahilah wanita yang pada pandangan Anda punya tingkat (kecantikan) dimana Anda cukup merasa senang dan tenang dengan melihat dia. Hal ini (persoalan kecantikan) akan kau rasakan porsi bedanya bukan sebagai porsi pertama dan utama yang terus menggelayuti pikiran Anda setelah Anda memulai hidup baru…memulai serial selanjutnya dari problematika-probelamatika hidup kita.
Wassalam.
[dikutip kembali dengan sedikit perbaikan redaksional dari diskusi di milist salafyitb beberapa tahun lalu. Terutama sekali mohon ijin buat kang ustadz abu ishaq dan kang ustadz abu ‘umair untuk mempublikasikannya kembali di blog ini – Abu Al-Jauzaa’].