2/05/2013

Jauhi sikap Menganggap Remeh

idak selayaknya sifat menganggap remeh kepada yang orang lain terlintas pada diri seorang muslim. Tak terkecuali pula pada diri seorang wanita muslimah. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan bimbingan kepada wanita wanita mukminah dalam bentuk peringatan sebagaimana tersebut dalam sabda Beliau shallallahu’alaihiwasallam. Sesuatu yang sedikit secara nilai adalah bukan sebagai penghalang untuk seseorang beramal dengannya. Rasulullahshallallahu’alaihiwasallam bersabda dalam hadits yang shahih sebagaimana tersebut dalam shahih al-Bukhari dari hadits ‘Adi bin Hatimia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam beliau mengatakan : تَّقوا النَّارَ وَلو بشقّ تَمْرَةٍ Jagalahdiri-diri kalian dari adzab api neraka walaupun hanya sekedar bershadaqoh dengan separoh buah kurma. Imam al-Bukhari menjadikan judul bab ketika membawakan hadits tersebut dengan menyatakan :Jagalah dari adzab neraka sekalipun hanya bershadaqoh dengan separoh buah kurma dan nilais edikit dari shodaqoh. Rasululloh shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan suri tauladan yang baik kepada umatnya berkaitan sikap memuliakan orang lain dan sikap tidak menganggap remeh kebaikan orang lain sebagaimana dalam sabda beliau yang disebutkan di dalamriwayat Abu Hurairah –radhiallahu’anhu- bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda : لو دعيتُ إلى ذراعٍ أو كُراعٍ لأجبتُ ولو أهْدي إليَّ ذراعٌ أو كُراعٌ لقبلتُ Seandainya aku diundang dalam satu hidangan yang menyuguhkan daging dari betis kambing atau apa yang di bawah mata kaki kambing sungguh aku akan penuhi undangan tersebut, dan seandainya dihadiahkan kepadaku kaki kambing atau apa yang dibawah mata kaki kambing sungguh aku akan menerimanya. (hadits riwayat al-Bukhori). ‘Aisyah –radhiallohu ‘anha- pernah bersodaqoh dengan tiga butir kurma kepada seorang wanita miskin yang membawa kedua anaknya. Pemberian seseorang berupa bagian dari mata kaki hingga kuku kambing (kikil,bhsjawa), adalah bagian yang biasa terbuang dan tertinggal saat seseorang menyembelih kambing atau bagian yang tidak teranggap bagi mayoritas penjual daging kambing karena sedikitnya daging yang menempel pada bagian tersebut tidaklah boleh seseorang menganggap remeh terhadap hal tersebut. Perkaranya adalah bukan masalah nilai yang sedikit dari kaki kambing tersebut, akan tetapi kesadaran untuk bershadaqoh dengan sesuatu yang mudah yang seseorang mendapatinya walaupun sedikit karena yang demikian itu lebih baik daripada tidak bershadaqoh sama sekali. Demikian juga sebagai bentuk perwuju dan dari sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang pernah menyampaikan satu pesan kepada para wanita muslimah dalam sabdanya : يَا نِساءَ المُسْلِمات ! يَا نِساءَ المُسْلِمات ! لا تحْقِرَنَّ جَارَة لِجارَتها وَلو فِرْسِنَ شَاةٍ Wahai wanita-wanita muslimah, janganlah pernah kalian menganggap remeh pemberian tetangga kalian walaupun hanya sekedar pemberian bagian kaki kambing.(Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah –radhiallahu’anhu-). Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam pesan beliau yang lain terhadap para shahabat ketika memasak daging maka dianjurkan untuk memperbanyak kuahnya dalam rangka untuk memperhatikan tetangga walaupun hanya sekedar memberikan sedikit bagian dari daging tersebut atau sekedar memberikan kuahnya. Sebagaimana pesan beliau kepada sahabat Abu Dzar –radhiallohu’anhu : وَإذَا صَنَعْتَ مَرَقَة فأ كثِر مَاءَها ثمَّ انظر أهْلَ بيتٍ منْ جيرانك فَأصِبْهمْ مِنْه بِمَعْروفٍ Jika engkau memasak daging maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikan dari keluarga tetanggamu, maka hendaklah engkau memberikan dari sebagian kuah daging tadi dengan cara yang baik. Suatu yang mudah jika seseorang memiliki kesadaran untuk beramal dengan bimbingan Rasulullahshallallahu’alaihiwasallam. Rasulullah memerintahkan untuk memperbanyak kuahnya, dan beliau tidak memerintahkan untuk memperbanyak dagingnya,karena dimungkinkan tidak setiap individu memiliki keluasan untuk memperbanyak dari dagingnya, akan tetapi mudah dilakukan ketika seseorang memperbanyak dari air kuahnya. Sehingga tidak menghalangi seseorang untuk bershadaqoh sekalipun hanya sekedar kuahnya. Semua itu kembali kepada kesadaran dari setiap individu untuk mengamalkan bimbingan Rasululloh tersebut. Dalam bimbingan yang lain Rasululloh shallallahu’alaihiwasallam menuturkan ketika Abu Hurairah –radhiallahu’anhu- menceritakan bahwa pernah ada yang bertanya kepada Rasulullahshallallahu’alaihiwasallam : Ya Rasulallah, ada seorang wanita ia senantiasa berdiri menegakkan sholat malam dan berpuasa sunnah di siang harinya dan perbuatan kebaikan yang lain, bershadaqoh akan tetapi ia juga seorang yang menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasululloh shallallahu’alaihiwasallam mengatakan : لا خَيرَ فِيهَا هِيَ مِنْ أهْلِ النَّارِ Tidak ada kebaikan baginya, ia termasuk penghuni api neraka. Kemudian mereka melanjutkan perkataannya : Dan ada seorang wanita ia sekedar menegakkan sholat lima waktu, dan hanya bershadaqoh dengan sedikit dari potongan keju, dan tidak pernah menyakiti tetangga ? maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam mengatakan : هِيَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ Ia adalah penghuni jannah. Hadits tersebut selain menunjukkan tentang bahaya yang diakibatkan oleh lisanya itu perbuatan menyakiti tetangganya apakah dengan lisan atau dengan perbuatan, demikian juga disebutkan tentang keutamaan bershadaqoh sekalipun hanya sedikit dari bagian potongan keju maka janganlah dianggap remeh hal yang demikian tersebut karena nilai yang sedikit dilihatcdari sesuatu yang dishadaqohkan tersebut.. Demikian beberapa riwayat yang berkaitan dengan anjuran untuk bershadaqoh sekali pun suatu yang mayoritas manusia itu menganggap remeh hal-hal tersebut. Maka jangan pernah sekali pun seseorang menganggap remeh. Jangan pernah menganggap remeh amalan kebaikan sekecil apapun. Terdapat riwayat dari abu Hurairah ia berkata bahwa Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda :Ketika ada seorang yang berjalan di suatu jalan, ia sangat merasa haus. Kemudian ia mendapatkan sebuah sumber mata air, ia pun lantas turun dan minum darinya dan kemudian keluar. Tetapi ia mendapati ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya, menjilat-jilat debu karena kehausan. Maka seseorang tersebut mengatakan, sungguh anjing ini sangat haus sebagaimana yang telah menimpaku tadi. Kemudian orang tersebut turun ke sumber mata air kembali dan kemudian memenuhi sepatunya dengan air lalu ia tahan dengan mulutnya dan memberikan minum kepada anjingtersebut, maka Alloh membalas kebaikannya dan memberikan pengampunan kepadanya. Mendengar tersebut para sahabat kemudian bertanya :Ya Rasulullah, apakah kami juga mendapatkan pahala apabila berbuat baik kepada binatang ? maka Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda : Sungguh pada setiap yang memiliki hati yang basah, terdapat pahalanya. Riwayat ini selain menunjukkan tentang perintah untuk bersikap kasih sayang terhadap binatang, demikian juga menunjukkan tentang tidak bolehnya seseorang menganggap remeh terhadap amalan kebaikan apapun, karena di sana terdapat keutamaan yang besar di antaranya sebagaimana ditunjukkan dalam hadits tersebut yaitu balasan pengampunan dari Alloh Ta’aala terhadap seorang yang berbuat baik kepada binatang dengan cara memberi minum kepada binatang yang kehausan. Demikian halnya kepada binatang, maka bagaimana jika kebaikan itu diperbuat kepada sesama bani Adam, terlebih lagi kepada mereka yang memiliki hak untuk mendapatkannya seperti kalangan fuqoro dan orang-orang miskin serta orang-orang lain yang sangat membutuhkan apakah makanan atau minuman serta kebutuhan yang lain dari kalangan kaum muslimin. Dari Abdulloh in Umar –radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda :Seorang wanita diadzab dikarenakan telah mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan. Wanita tersebut masuk keneraka karena hal tersebut. Dikatakan -Wallahua’lam – : Engkau tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya dan tidak juga melepasnya hingga kemudian ia makan serangga-serangga tanah. Riwayat ini juga menunjukkan tentang bahayanya menganggap remeh dengan tidak mempedulikan hak-hak yang harus dipenuhi terhadap binatang, dalam hal ini adalah seekor kucing yang ia kurung dan tidak ia berikan haknya dari makanan dan minuman. Selain riwayat ini juga menunjukkan tentang bahayanya berlaku kedholiman sekalipun terhadap kalangan binatang. Demikian beberapa riwayat kami bawakan diantara faedahnya adalah tidak boleh seseorang menganggapremeh suatu amalan kebaikan dan sikap menganggap remeh adalah merupakan akhlak tercela. Wallahua’lam.

baca selengkapnya......

Yang Kesekian Kali, Jauhi Sifat Iri Dengki

Sifat yang sangat tercela akan tetapi banyakmenjangkiti kaum hawa, bahkan menjangkiti kebanyakan manusia, hingga menjangkiti sekalipun para penuntut ilmu, kecuali para penuntut ilmu yang dipenuhi sifat kejujuran. Sifat yang Allah Ta’aala telah peringatkan darinya. Sifat yang Allah perintahkan untuk dibersihkan dari setiap individu. Sifat apa itu? Yaitu hasad. Karena hasad adalah termasuk dari sejelek-jelek sifat. Termasuk sifat besar syaithon dan bala tentaranya. Adalah sifat orang-orang yang telah mendapatkan kemurkaan Allah yaitu orang-orang Yahudi, firman Allah Ta’aala : وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Al.Baqoroh :109). Meraka (yahudi) dengki terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atas apa yang telah diberikan Allah kepada beliau dari kenabian dan kedudukan yang besar, sehingga menjadikan sebab kekufuran orang-orany Yahudi terhadap apa yang dibawa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dalam keadaan mereka mengetahui tentang kejujuran dan kebenaran apa yang dibawa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan dalam keadaan mereka meyakini bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah seorang Nabi, hingga terus menerus ada pada orang-orang Yahudi yang senantiasa mendengki kepada umat ini karena umat ini telah Allah berikan kenikmatan berupa keimanan yang benar dan hidayah. Hasad adalah seseorang tidak suka adanya satu kenikmatan itu sampai kepada yang selain darinya, dan berangan agar nikmat tersebut hilang dari orang lain. Hasad banyak terjadi terkait urusan dunia, dari harta, kedudukan, keadaan seseorang dan selain dari pada itu. Bahkan yang lebih berbahaya adalah terdapat pada kalangan para pencari ilmu, kecuali yang dirahmati Allah Ta’aala. Dengan adanya hasad, seseorang berarti tidak menerima ketentuan Allah Ta’aala, karena ia memandang bahwa orang lain seakan tidak berhak mendapatkan dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepadaya dari berbagai keutamaan, dan ia juga berpandangan bahwa ia lebih berhak untuk mendapatkan dari apa yang telah didapatkan oleh saudaranya tersebut. Dengan hasad seseorang terjatuh dalam pengingkaran terhadap hikmah Allah pada pengaturanNya terhadap makhlukNya, karena Allah Ta’aala itu memberi atau mencegah adalah dengan hikmah yang besar. Dengan hasad menjadikan kebencian sesama manusia, karena seorang yang hasad itu pasti tumbuh pada dirinya kebencian kepada yang lain. Rasul kita bersabda : Janganlah kalian saling iri, janganlah kalian saling memata-matai saudaranya, janganlah kalian saling membenci dan janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli oleh sebagiannya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang menjaga tali persaudaraan. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah –radziallahu’anhu). Terjadi pembunuhan di antaranya adalah kerusakan yang diakibatkan karena hasad, firman Allah Ta’aala : وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Berkata salah satu keduanya kepada yang lain: “Aku pasti membunuhmu!”. Yang selainnya Berkata: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(Al-Maidah : 27) Hasad telah mengakibatkan seseorang menolak kebenaran ketika kebenaran itu datang dari orang yang telah ia dengki kepadanya. Dengan hasad pula telah menjadikan sebab seseorang terus menerus di atas kebatilan, sebagaimana sifat yang ada pada Iblis yang Allah telah melaknatnya. Dengan Hasad memunculkan sifat jelek yang lain yaitu ghibah, namimah, dan selainnya. Terlebih kalangan orang jahil, ketika ia mengungkapkan kepada yang selainnya tentang kedengkian kepada saudaranya, maka pada akhirnya ia terjatuh dalam dua perkara yang sangat tercela tersebut yaitu ghibah dan namimah. Adanya hasad menjadikan seseorang senantiasa di atas kegamangan, kegalauan dan kesedihan, karena di saat keutamaan Allah diberikan kepada saudara yang lain sedangkan ia tidak menginginkan hal tersebut terjadi dalam keadaan ia juga tidak mampu untuk mencegah dan menghalanginya. Dan selain dari pada itu sangat banyak untuk disebutkan tentang kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh sifat hasad atau kedengkian. Sehingga apabila seseorang mendapati sifat tercela tersebut menjangkiti pada dirinya, berupayalah dengan kesungguhan untuk segera mengilangkannya, diantaranya adalah dengan senantiasa mengingat kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh sifat tercela tersebut, apakah kerusakan kaitannya dengan urusan dunianya, terlebih besar yaitu kerusakan yang menyangkut urusan agamanya. Dan hendaklah ia senantiasa ingat bahwa segala urusan itu di Tangan Allah Ta’aala Yang Maha luas RahmatNya dan Allah Ta’aala adalah Yang Maha memiliki seluruh keutamaan yang besar. Dan hendaklah setiap individu untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’aala semata atas segala keutamaan. Firman Allah Ta’aala : وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisaa : 32). Wallahu Ta’aala a’lam.

baca selengkapnya......

Khadijah Istri Teladan

Khadijah bintu Khuwailid, istri Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam yang pertama. Dari beliaulah Nabi mendapatkan anak. Seluruh anak Nabi berasal dari Khadijah kecuali Ibrahim. Beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam. Beliaulah yang mendukung, menghibur, dan menguatkan hati Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam di masa-masa awal kenabian. Dukungan diberikannya secara penuh dalam segala hal, termasuk harta. Itu adalah masa-masa sulit penuh perjuangan, di saat sedikitnya dukungan dari sekitar, justru yang terbanyak adalah orang-orang yang menentang dakwah beliau. Khadijah menguatkan Nabi pada saat beliau ketakutan karena baru didatangi Jibril di awal turunnya wahyu. Khadijah menghibur dan menyelimuti beliau dengan menyatakan: كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا فَوَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ Sekali-kali tidak. Bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selama-lamanya. Demi Allah, sungguh engkau adalah penyambung silaturrahmi, jujur dalam berkata, mau menanggung beban penderitaan orang lain, menyantuni pihak yang kekurangan, memulyakan tamu, suka menolong (H.R al-Bukhari dan Muslim). Malaikat Jibril pernah menyampaikan kepada Nabi: فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ Sampaikanlah salam untuknya dari Rabbnya dan dariku, dan berilah kabar gembira kepadanya dengan rumah (istana) di surga dari mutiara besar yang berongga, yang tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak ada perasaan capek (H.R alBukhari dan Muslim) Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa Khadijah akan mendapatkan surga dengan sifat tidak ada kegaduhan dan tidak ada capek di dalamnya, karena Khadijah telah bersikap sebagai istri yang baik. Tidak akan ia dapati kegaduhan di surga karena ia sebagai istri tidak pernah menimbulkan kegaduhan. Perintah suaminya ia laksanakan dengan senang hati. Ia tidak mengangkat suara untuk membantah suaminya. Ia akan mendapatkan surga yang tidak ada perasaan capek di dalamnya, karena ia senantiasa berusaha agar rumah menjadi sarana bagi suaminya untuk menghilangkan capek dan penat. As-Suhaily menyatakan: Dua sifat yang dinafikan darinya (kegaduhan dan capek) tepat (untuk didapatkan oleh Khadijah) karena Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam ketika berdakwah kepadanya ia terima dengan senang hati, tidak ditentang dengan mengangkat suara. Bahkan Khadijah berusaha untuk menghilangkan seluruh kepenatan pada Nabi, menenangkan beliau pada saat keadaan gawat, memudahkan bagi beliau pada keadaan yang sulit, sehingga tepatlah balasan tempat tinggalnya yang diberi kabar gembira oleh Tuhannya dengan sifat yang sesuai dengan perbuatannya (Fathul Baari karya Ibnu Hajar al-Asqolaany (7/138)) Al-Munawi juga menjelaskan: Ia (Khadijah) berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan keridhaan beliau (suaminya) dan agar ia tidak melakukan hal yang menyebabkan kemarahan beliau (suaminya) (Faidhul Qodiir (2/241)) (Abu Utsman Kharisman)

baca selengkapnya......

Mengingat kembali, Dari Apa Kita dicipta

Dalam perjalanan kehidupan ini kita senantiasa menyaksikan, apakah dengan penglihatan kita, pendengaran kita atau dengan persaksian yang selainnya, ada seorang yang terlahir di muka bumi ini di waktu yang telah lalu, kemarin atau hari ini. Dengan berjalannya waktu, mereka tumbuh berkembang. Terkadang seseorang tidak sempat memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan manusia tersebut. Sesungguhnya dari apa kita diciptakan Allah? Lebih lagi tidak mengerti untuk apa manusia diciptakan. Allah Ta’aala berfirman : هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا Bukankah Telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat.Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(Al-Insan : 1-3). Allah Ta’aala mengatakan dengan menyebutkan dalam surat yang mulia ini (surat al-Insan) awal permulaan keadaan seorang manusia, baik permulaannya, pertengahan dan akhir manusia tersebut. Allah Ta’aala menyebutkan Sebelum adanya manusia , telah berlalu suatu masa yang sangat panjang ia adalah sesuatu yang tidak ada, atau bahkan sesuatu yang tidak bisa disebut. Di saat Allah Ta’aala menghendaki untuk menciptakan manusia, maka Allah cipta Adam bapak manusia yang terbuat dari tanah, hingga secara berturutan sambung menyambung Allah Ta’aala cipta anak cucu Adam. Allah Ta’aala katakan : “Dari setetes air mani yang telah bercampur”. Yaitu air yang hina dan menjijikkan, Allah Ta’aala hendak mengujinya dengan perkara tersebut. Agar Allah Ta’aala mengetahui apakah ia (manusia) kemudian melihat keadaannya di awal pertama dan memikirkan ataukah ia melupakannya atau bahkan ia menipu dirinya sendiri? Allah Ta’aala telah menjadikan manusia serta memberikan kekuatan dalam bentuk lahir dan batin, semisal pendengaran, penglihatan dan bagian-bagian tubuh yang lain. Kemudian Allah Ta’aala menyempurnakannya dan menjadikan semua itu dalam keadaan baik dan berfungsi sehingga ia mampu mencapai apa yang menjadi maksud tujuannya. Hingga Allah Ta’aala utus para Rasul utusanNya, Allah turunkan kitab-kitabNya kepada mereka (manusia) serta menunjuki manusia suatu jalan yang akan menghantarkan mereka kepada Allah Ta’aala. Memberikan motivasi di kala manusia menempuh jalan tersebut, dan menjelaskan tentang apa yang akan didapatkan ketika seseorang itu telah sampai kepada Allah Ta’aala. Kemudian Allah terangkan kepada manusia jalan-jalan yang akan menyeret kepada kebinasaan. Allah Ta’aala memberikan ancaman (bagi manusia) terhadap jalan tersebut, serta menjelaskan perihal apa yang akan ia terima apabila seseorang memilih menempuh jalan tersebut, dan Allah mengujinya dengan perkara itu. Maka manusia terbagi, menjadi seorang yang bersyukur terhadap kenikmatan Allah Ta’aala yang diberikan kepadanya, sehingga ia kemudian menunaikan hak-hak yang Allah embankan kepadanya, bagian manusia yang lain adalah seorang yang kufur terhadap kenikmatan yang telah Allah berikan kepada mereka terkait kenikmatan agama dan kenikmatan dunia, ia menolaknya hingga kufur kepada Rabb-nya dan ( lebih memilih) untuk menempuh jalan yang menjerumuskan kepada kebinasaan Demikian apa yang dituturkan oleh as-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kita Taisirul Karimir Rahman fii Tafsiiri Kalaamil Mannan tafsir surat al-Insan ayat 1-3). Dari setetes air mani yang hina lagi menjijikkan yang telah bercampur dengan hal yang serupa, itulah asal mula kita sebagai anak cucu Adam, dalam keadaan berada dan melewati jalan yang biasa di lewati suatu hal yang najis. Itulah asal mula keberadaan kita sebagai manusia. Semua itu dimengerti oleh setiap individu yang bisa menggunakan akalnya. Dan hendaknya setiap individu menyadari hal tersebut, untuk kemudian tahu akan dirinya, yang harus tunduk kepada setiap seruan penciptanya yaitu Allah Ta’aala yang telah memberikan kemuliyaan kepadanya, berupa ilmu dan seluruh kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah Ta’aala berikan kepadanya. Untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’aala semata dan untuk tidak sedikitpun mensekutukan kepada Allah Ta’ala dengan sesuatupun, itulah tujuan diciptakannya manusia. Tujuan yang sangat mulia. Setiap manusia hendaknya mencari tujuan yang sangat mulia tersebut . Hanya untuk beribadah kepada-Nya semata. Firman Allah Ta’aala : وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (adz-Dzariyaat : 56). Dengan mengingat kembali, dari apa manusia dicipta ia akan mengetahui kedudukan dirinya, ia tahu kadar dirinya, ia akan mengetahui betapa banyak kesempurnaan-kesempurnaan yang diberikan Allah atas dirinya sebagai makhluk. Dan dengan mengingat kembali dari apa ia dicipta, adakah kesempatan seseorang untuk kemudian berlaku kibir (sombong) kepada sesamanya, sedangkan ia dicipta dari suatu yang sama-sama menjijikkan. Dan Terlebih dari pada itu adakah kesempatan berlaku kibir (sombong) di hadapan Allah Ta’aala yang telah menciptakannya? Yang telah menyempurnakannya sebagai makhluk? لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(at-Tiin : 4) Hendaklah setiap individu menyadari dan sesaat untuk senantiasa mengingat kembali, dari apa asal ia dicipta ini? Sehingga pada akhirnya mengetahui kedudukan dan kadar dirinya, dan mengetahui untuk tujuan mulia apa ia dicipta? Wallahu Ta’aala a’lam.

baca selengkapnya......